BerTuhan tapi Tak BerAgama

Trend yang sekarang kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm..... mumet juga nggas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak saya juga untuk mengatakan itu paham yang koplo bin koclok.

Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan di situ. Miturut kulo, orang yang percaya pada Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan :





* Kemungkinan Pertama
Orang itu salah memilih Tuhan sebagai sesembahannya. Karena orang itu gagal diyakinkan bahkan oleh Tuhannya sendiri bahwa agama-Nya itu benar dan bisa dipercaya. Boleh jadi karena ajaran agama yang dianutnya kacau balau, banyak dogma yang tak masuk akal, lantasdengan segala tumpang tindih kekacauan yang ada pada ajaran agama yang dianutnya itu, dia dipaksa oleh keadaan untuk menganutnya. Sebenarnya ada pilihan agama lain, tapi ego dan perutnya tak cukup mengijinkan dia untuk menjangkaunya.


Saran saya, carilah Tuhan dengan ajaran agama yang kebenarannya bisa diuji dengan apa pun. Karena kebenaran dari Al-Haq pasti tahan uji. Jika satu hal yang dianggap benar gagal mempertahankan nilai kebenarannya, maka pastilah itu bukan kebenaran, dan pasti itu bukan Tuhan.

* Kemungkinan Kedua
Tuhan dengan ajaran agama-Nya sebenarnya sudah benar, sudah pas dan proporsional sesuai dengan Maha Adil-Nya Sang Pencipta. Namun, hawa nafsu manusia yang memang tak mau diatur dan tak mau menyesuaikan diri dengan aturan-Nya melakukan penyangkalan. Sehingga meskipun si manusia mengaku berTuhan, tapi agama yang diturunkan-Nya ke muka bumi yang berisi aturan ini-itu, menghalangi dia memuaskan hawa nafsunya. Dia tidak percaya pada agama karena agama mrintah ini dan itu, melarang ini dan itu, yang miturut otaknya yang sudah mlotrok sampai ke dengkul itu, bertentangan dengan nilai-nilai yang dianggapnya lebih tinggi, daripada nilai yang ditawarkan oleh agama Tuhan.


Maka orang ini, ketika dia berkata bahwa dia percaya pada Tuhan tetapi tak percaya pada agama-Nya, sebeanrnya Tuhan yang dia percayai itu adalah hawa nafsunya atau dirinya sendiri.  Ini adalah ego terbesar manusia, yang dengan lantang diteriakan dengan vulgar penuh tantangan oleh Fir'aun ribuan tahun yang lalu, dengan teriakan yang diabadikan dalam Al-Qur'an, "Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi." Namun, di abad ini teriakan itu kembali dikumandangkan dengan volume agak kecil, tapi frekuensinya kenceng.

Sebenarnya kedua golongan di atas, mereka ini intinya kecewa dengan ajaran agama yang dianutnya. Bisa jadi karena ajaran agamanya yang memang tak bisa meyakinkan pemeluknya, tapi bisa jadi karena ajaran agama tersebut tak bersesuaian dengan hawa nafsunya. Tapi yang jelas, konsekuensi berTuhan dan percaya pada Tuhan, sudah pasti menuntut untuk percaya pada agama yang diturunkan-Nya.
Wallahu a'lam.

1 komentar:

MUXLIMO mengatakan...

Mantap, Gan!
setuju, akurrr! :D
Illustrasi gambarnya nendang bangadh! hehehe
Analisis Mas Fuad ini singkat, padat, tepat mengenai jantung2 ateis, saya kira :D

btw, saya ada postingan serupa. Judulnya: Mengapa Ateisme itu Lucu XD
Kalo sempet, komen2 ya di sana.. ;)

Posting Komentar

Berlangganan posting lewat email

Masukkan alamat email anda:

Delivered by FeedBurner


Anak Indonesia Harapan Masa Depan

↑ Grab this Headline Animator


penerus_harapan_bangsa
 
Indonesia POLRI BNN STMIK Swadharma logo_sma_muga